Wednesday, 9 January 2019

part 2
sambungan dari cerita bersambung sorban putih

***
Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA)  Prenduan Sumenep Madura itulah sekarang pondok yang di pilih oleh millah untuk memenuhi wasiat dari seorang ayah tercinta yang lebih dahulu menghadap sang khaliq.
Yayasan al-amien prenduan menangani 6 lembaga pendidikan, yaitu Pondok Al-Amien Tegal (Putra), Al-Amien putri 1, TMI sekolah setingkatan dengan MTS  (putra-putri), MTA sekolah kusus penghafal al-Qur’an (Putra-Putri), IDIA Prenduan perguruan tinggi Al-Amien (Putra-Putri), dan Ma’had Salafy (Putra). Selain itu juga membawahi beberapa Biro : Biro Pendidikan dan Pembudayaan, Biro Dakwah dan Pengabdian Masyarakat, Biro Alumni dan Kadersasi, Biro Ekonomi dan Sarana serta pusta Studi Islam (PUSDILAM).
IDIA (Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien) didirikan pada tanggal 11 september 1983 dengan nama PESANTREN TINGGI AL-AMIEN (PTA) dan diresmikan oleh Menteri Agama Republk Indonesia, H. Munawir Syadzalli, MA. (1983-1984). Membuka Fakultas Dakwah pada tahun 1984-1985. Dengan turunnya SK Dirjen Binbaga Islam cq. Ditpertais dan SK Yayasan Pondok Pesantren Al-Amien nomor : 13/YPPA/A.3/I/’85 maka fakultas dakwah al-amien secara resmi harus diganti nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Amien (STIDA) dengan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan dan Agama (BPA).
Ustadzah ‘Aini adalah ustadzah yang menyambut kedatangnya saat tiba pertama kali di pondok dan memperkenalkan sedikit perihal kehidupan sehari-hari di asrama. Setelah diisi semua formulir pendaftaran millah diantar oleh ustadzah ‘Aini ke kamarnya. Bilik yang paling ujunglah yang dipilihkan untuknya karena kamar lain sudah tidak cukup lagi. Tahun ini yang masuk ke IDIA lebih banyak jika dibandingkan dengan tahun kemarin. Ada sekitar 60 mahasiswa dan 50 mahasiswi baru.
 “ assalmu’alaikum..., indanaa ukhtun jadidah...”
(assalmu’alaikum..., kita punya saudara baru..) terang ustadzah ‘aini.
“ wa’alaikumsalam..., yeehhh... indanaa ukhtun jadidah. Ahlan wa sahlan ya ukhtii..”
(wa’alaikumsalam..., yeehhh...kita punya saudara baru. Selamat datang wahai saudaraku). Sambut Kholifah dengan gembira.
“Kholifah ustadzah kasih tugas. buat millah jadi betah di sini, awas jika ana dengar dia menangis kamu akan saya panggil ke kantor”
“ iya.. ustadzah..., insya Allah akan saya temanin”
“ millah.. sekarang ustadzah tinggal duluh yahhh. kalau perlu sesuatu minta tolong sama Kholifah yahh..”
“iya ustadzah.. terima kasih banyak sudah mengantarkan saya ke kamar”
***
Setelah sepeninggalan ustadzah, Kholifah mulai bereaksi menanyakan tentang dirinya dari A sampai Z, hari-harinya dihabiskan bersama teman barunya itu. Berangkat ke sekolah berdua, canda tawa bersama sampai millah lupa bahwa dia mahasiswi yang baru datang.
Akhirnya dua minggu di pondok Kholifah menjadi sahabatnya yang selalu mengingatkannya dikala lupa,  menggenggamnya ketika akan terjatuh, ada dikala bahagia dan susah dan satu hal yang membuat millah tak henti-hentinya bersyukur yaitu membawanya lebih dekat dengan Tuhannya.
“ millah.. cepatan.. nanti kita telat ke kelas”
Teriak Kholifah mengingatkan millah agar segera menyusul keluar dari kamar munuju gerbang asrama.
“na’am...ini tinggal benerin jilbab”
Setelah selesai membenarkan jilbabnya dia pun segera mengikuti sahabatnya tidak sabaran menunggunya. Jarum jam panjang di diding kamar sudah di angkah 9, menandakan bahwa 10 menit lagi mereka terlambat, hal ini yang membuat Kholifah terburu-buru dan juga letak kamar mereka yang paling jauh.
“lif kamu tadi malam gak bangunin aku tahajud yahhh..?”
“ kata siapa... saya udah bangunkan anti. tapi kamunya aja yang gak mau bangun”
            “ apa iya ? kata millah masih belum percaya.
“ iya mil masa aku mau bohong sihh..? kamu itu susah banget saat dibangunkan tahajjud” dengan sabar kholifah menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
“ nanti waktu rohah antarin aku liat ke mading pemanggil yahh.. kayaknya aku dipanggi kakak BEM bagian ibadah dehh”
“ kak indhy? “
“ yaa.. yahh..itu.  kakak yang suka manggil-manggil orang”
Ditengah mereka asyik berbincang-bincang masuklah ustadzah ‘Aini.
“Assalamu’alaikum wa rahmatulhi wa barakaatuh...”
“Wa’alaikumssalam wa rahmatulhi wa barakaatuh...”
“Kaifa halukunnaa..?
“Alhamdulillah innanaa bikhoir wa antum..?
“innii bikhoir aidhon..”
sekarang ustadzah ingin menambah pelajaran nusus. siapa yang tahu apa bahasa arabnya siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil ?
Salah satu murid mengacungkan tangan, dia adalah Istin Kurniasih mahasiswi dari Riau lulusan pondok gontor Putri Tiga Ngawi.
“ na’am anti..(ya kamu)..!
من جدّ وجد....!
“aiwa (iya). Betul sekali dek Istin”
“ jadi bahasa arabnya adalah man jadda wa jada”
“ayo. Semuanya man jadda wa jada”
“man jadda wa jada” semua berteriak dengan serempak.
“ada yang pernah dengar tentang parang tumpul bisa mematahakan kayu, istin pasti sudah tahu karena kisah pimpinan podok modern gontor KH Iman Zarkasyih dalam membakar semangat juang anak muda ?”
“iya usatadzah ana tahu..”
Ustadzah ‘Aini melanjutkan ceritanya kembali.
begini ceritanya, suatu hari KH Iman Zarkasyih masuk ke kelas membawa kayu dan diletakkan di atas meja, kayu pertama beliau ambil dan memotongnya memakai parang yang tajam seketika kayu itupun terbelah menjadi dua. Sedangkan satunya beliau angkat dan ditangannya terdapat parang yang tumpu lalu bertanya pada murid-muridnya. “bisakah parang ini memotong kayu ini menjadi dua?
Anak-anak bingung mana mungkin parang tumpul dapat memotong kayu itu ?, mungkin pula berpikir gurunya ini ada-ada saja. Namun KH Iman Zarkasyih mulai mengangakat parang dan memotong kayu nihil tidak ada yang berupa, diayunkan kembali parang tersebut di atasnya kayu hasilnya sama saja. Ayunan demi ayunan dilakukan perlahan-lahan kayu mulai terkikis separuh, keringat sudah membasahi dahi beliau tetapi tidak terlihat menyerah di wajahnya.
Setelah lama memotong akhirnya kayu itu terbelah menjadi dua. Subhanaullah. Setiap mata memandang takjub dan heran dengan apa yang telah tejadi.”


bagaimana lanjut?