sambungan dari cerita bersambung sorban putih
***
Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep Madura itulah sekarang
pondok yang di pilih oleh millah untuk memenuhi wasiat dari seorang ayah
tercinta yang lebih dahulu menghadap sang khaliq.
Yayasan al-amien prenduan menangani 6 lembaga pendidikan, yaitu Pondok
Al-Amien Tegal (Putra), Al-Amien putri 1, TMI sekolah setingkatan dengan
MTS (putra-putri), MTA sekolah kusus
penghafal al-Qur’an (Putra-Putri), IDIA Prenduan perguruan tinggi Al-Amien
(Putra-Putri), dan Ma’had Salafy (Putra). Selain itu juga membawahi beberapa Biro
: Biro Pendidikan dan Pembudayaan, Biro Dakwah dan Pengabdian Masyarakat, Biro
Alumni dan Kadersasi, Biro Ekonomi dan Sarana serta pusta Studi Islam (PUSDILAM).
IDIA (Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien) didirikan pada tanggal
11 september 1983 dengan nama PESANTREN TINGGI AL-AMIEN (PTA) dan
diresmikan oleh Menteri Agama Republk Indonesia, H. Munawir Syadzalli, MA.
(1983-1984). Membuka Fakultas Dakwah pada tahun 1984-1985. Dengan turunnya SK
Dirjen Binbaga Islam cq. Ditpertais dan SK Yayasan Pondok Pesantren Al-Amien
nomor : 13/YPPA/A.3/I/’85 maka fakultas dakwah al-amien secara resmi harus
diganti nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Amien (STIDA) dengan jurusan
Bimbingan dan Penyuluhan dan Agama (BPA).
Ustadzah ‘Aini adalah ustadzah yang menyambut kedatangnya saat tiba
pertama kali di pondok dan memperkenalkan sedikit perihal kehidupan sehari-hari
di asrama. Setelah diisi semua formulir pendaftaran millah diantar oleh
ustadzah ‘Aini ke kamarnya. Bilik yang paling ujunglah yang dipilihkan untuknya
karena kamar lain sudah tidak cukup lagi. Tahun ini yang masuk ke IDIA lebih
banyak jika dibandingkan dengan tahun kemarin. Ada sekitar 60 mahasiswa dan 50 mahasiswi baru.
“
assalmu’alaikum..., indanaa ukhtun jadidah...”
(assalmu’alaikum..., kita punya saudara baru..) terang ustadzah
‘aini.
“ wa’alaikumsalam..., yeehhh...
indanaa ukhtun jadidah. Ahlan wa sahlan ya ukhtii..”
(wa’alaikumsalam..., yeehhh...kita punya saudara baru. Selamat
datang wahai saudaraku). Sambut Kholifah dengan gembira.
“Kholifah ustadzah kasih tugas.
buat millah jadi betah di sini, awas jika ana dengar dia menangis kamu akan
saya panggil ke kantor”
“ iya.. ustadzah..., insya Allah akan saya temanin”
“ millah.. sekarang ustadzah tinggal duluh yahhh. kalau perlu
sesuatu minta tolong sama Kholifah yahh..”
“iya ustadzah.. terima kasih banyak sudah mengantarkan saya ke
kamar”
***
Setelah sepeninggalan ustadzah, Kholifah mulai bereaksi menanyakan
tentang dirinya dari A sampai Z, hari-harinya dihabiskan bersama teman barunya
itu. Berangkat ke sekolah berdua, canda tawa bersama sampai millah lupa bahwa
dia mahasiswi yang baru datang.
Akhirnya dua minggu di pondok Kholifah menjadi sahabatnya yang
selalu mengingatkannya dikala lupa,
menggenggamnya ketika akan terjatuh, ada dikala bahagia dan susah dan
satu hal yang membuat millah tak henti-hentinya bersyukur yaitu membawanya
lebih dekat dengan Tuhannya.
“ millah.. cepatan.. nanti kita
telat ke kelas”
Teriak Kholifah mengingatkan millah agar segera menyusul keluar
dari kamar munuju gerbang asrama.
“na’am...ini tinggal benerin jilbab”
Setelah selesai membenarkan jilbabnya dia pun segera mengikuti sahabatnya
tidak sabaran menunggunya. Jarum
jam panjang di diding kamar sudah di angkah 9, menandakan bahwa 10 menit lagi
mereka terlambat, hal ini yang membuat Kholifah terburu-buru dan juga letak
kamar mereka yang paling jauh.
“lif kamu tadi malam gak bangunin aku tahajud yahhh..?”
“ kata siapa... saya udah bangunkan
anti. tapi kamunya aja yang gak mau bangun”
“ apa iya ? kata millah masih belum percaya.
“ apa iya ? kata millah masih belum percaya.
“ iya mil masa aku mau bohong sihh..? kamu itu susah banget saat dibangunkan
tahajjud” dengan sabar kholifah menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
“ nanti waktu rohah antarin aku liat ke mading pemanggil yahh..
kayaknya aku dipanggi kakak BEM
bagian ibadah dehh”
“ kak indhy? “
“ yaa.. yahh..itu. kakak yang suka manggil-manggil orang”
Ditengah mereka asyik berbincang-bincang masuklah ustadzah ‘Aini.
“Assalamu’alaikum wa rahmatulhi wa
barakaatuh...”
“Wa’alaikumssalam wa rahmatulhi wa
barakaatuh...”
“Kaifa halukunnaa..?
“Alhamdulillah innanaa bikhoir wa
antum..?
“innii bikhoir aidhon..”
“ sekarang ustadzah ingin menambah pelajaran nusus. siapa yang
tahu apa bahasa arabnya siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil ?
Salah satu murid mengacungkan tangan, dia adalah Istin Kurniasih
mahasiswi dari Riau lulusan pondok gontor Putri Tiga Ngawi.
“ na’am anti..(ya kamu)..!
“من جدّ وجد....!
“aiwa (iya). Betul sekali dek Istin”
“ jadi bahasa arabnya adalah man jadda wa
jada”
“ayo. Semuanya man jadda wa jada”
“man jadda wa jada” semua berteriak dengan serempak.
“ada yang pernah dengar tentang parang
tumpul bisa mematahakan kayu, istin pasti sudah tahu karena kisah pimpinan
podok modern gontor KH Iman Zarkasyih dalam membakar semangat juang anak muda ?”
“iya usatadzah ana tahu..”
Ustadzah ‘Aini melanjutkan ceritanya kembali.
“ begini ceritanya, suatu hari KH Iman Zarkasyih masuk ke kelas membawa kayu dan
diletakkan di atas meja, kayu pertama beliau ambil dan memotongnya memakai
parang yang tajam seketika kayu itupun terbelah menjadi dua. Sedangkan satunya
beliau angkat dan ditangannya terdapat parang yang tumpu lalu bertanya pada
murid-muridnya. “bisakah parang ini memotong kayu ini menjadi dua?
Anak-anak bingung mana mungkin parang
tumpul dapat memotong kayu itu ?, mungkin pula berpikir gurunya ini ada-ada
saja. Namun KH Iman Zarkasyih mulai mengangakat parang dan memotong kayu nihil
tidak ada yang berupa, diayunkan kembali parang tersebut di atasnya kayu
hasilnya sama saja. Ayunan demi ayunan dilakukan perlahan-lahan kayu mulai
terkikis separuh, keringat sudah membasahi dahi beliau tetapi tidak terlihat
menyerah di wajahnya.
Setelah lama memotong akhirnya kayu itu
terbelah menjadi dua. Subhanaullah. Setiap mata memandang takjub dan heran
dengan apa yang telah tejadi.”
bagaimana lanjut?
