Hari ini merupakan tiga tahunnya millah di Pondok pesantren, dia
mulai merasa betapa nikmatnya tinggal di dalam sebuah jeruji suci, mengenal
lebih dalam tentang manisnya ruh Islam dan
setiap dalam sujud tahajudnya millah
bersyukur kepada sang Khaliq yang telah memberi hidayah kepadanya untuk masuk
pondok pesantren serta bagaimana merasakan bersanding dengan para Shohibul Jannah.
Tiga tahun yang lalu dia masih harus dipaksa olah para mu’alimah
menggunakan air untuk membangunkannya, dan dipaksa agar memakai jubah dan
kerudung yang syar’i, namun hari ini saat akan dibangunin oleh mu’alimah dia
tidak ada di tempat tidurnya karena dia sudah bangun dan menunaikan sholat
tahajud satu jam sebelum mua’alimah itu datang dan sekarang jubah dan jilbab
syar’i adalah pakain favoritenya.
Tiga tahun yang lalu disaat para santriwati fokus mendengar tauziah
dari seorang Kyai dia malah menjelajai bunga-bunga tidurnya dan yang lain sibuk
dengan al-Qur’an dia sibuk dengan novel-novelnya, namun hari ini millah
berbeda. Setiap kali ada tauziah dari seorang Kyai dia sudah duduk manis di
shof paling depan dan sekarang perlahan-lahan mulai lebih lama bercekrama
dengan al-Qur’an, setiap sepekan sekali baru membaca novel itu pun novel-novel Islami
bukan novel yang tanpa makna.
***
Badai dan topan dari mana sehingga membawa perubahan pada millah begitu cepat melebih kecepatannya
cahaya. Cerita bermula pada sebulan yang lalu saat ba’da shubuh ada tauziah
dari Nyai Amnah, seorang putri pimpinan pondok yang telah lulus dari Al-Azhar
Kairo salah satu kampus tertua di Mesir. Nyai Amnah menyampaikan tentang betapa
mulianya seorang hambah yang bernama wanita shalihah.
“ wanita sholihah dia bukanlah
wanita yang sibuk memoleskan make up di wajahnya, bukan pula yang bangga akan
kariernya yang cemerlang, bukan juga yang memamerkan kecantikannya di depan
umum. Namun wanita sholihah adalah yang selalu mendekatkan dirinya pada Allah,
menjaga dirinya hanya untuk satu orang yang mencintainya karena Allah.”
Salah satu teman Millah mengangkat tangan lalu bertanya.
“Afwan Nyai saya ingin bertannya,
bagaimana cara kita untuk mendekatkan diri kita kepada Allah”
“pertanyaan yang bagus. Bagaimana
cara kita untuk mendekatkan diri kepada?
tentunya dengan bertaqwah kepada Allah dalam artian selalu mengerjakan apa yang telah ditetapkannya dan menjauhi segala bentuk larangnya, tentunya tidak hanya di sini sebagai wanita muslimah hidup kita harus berlandasan pada Al-Qur’an dan Sunnah karena setiap perkara dalam kehidup kita al-qur’an dan Hadist adalah jalan kelurnya”.
tentunya dengan bertaqwah kepada Allah dalam artian selalu mengerjakan apa yang telah ditetapkannya dan menjauhi segala bentuk larangnya, tentunya tidak hanya di sini sebagai wanita muslimah hidup kita harus berlandasan pada Al-Qur’an dan Sunnah karena setiap perkara dalam kehidup kita al-qur’an dan Hadist adalah jalan kelurnya”.
Contoh tentang permasalahan berpakaian yang syar’i telah disebutkan
dalam Al-Qur’an Al-Karim surat Al-Ahzab ayat 59. Artinya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu
dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang”.
Ba’da subuh millah mulai merenung seorang diri seperti apa dirinya
selama ini, dunia yang selalu dipikirkan seakan-akan dia akan hidup selamanya. Millah
bukanlah anak lulusan pondok sebelumnya. Dia merupakan anak lulusan salah satu sekolah
menengah negri di kota malang.
Kehidupan yang bebas tidak mengenal mana muhrim mana bukan, risih
dengan orang yang berpakain tertutup, keluyuran malam bersama teman sudah
menjadi hal biasa dan jangan tanya tentang sholatnya mungkin yang sering
dilakukan adalah sholat dzuhur karena merupakan sebuah tuntutan dari sekolah yang
mewajibkan siswa-siswi berjamah di musholah.
Roda kehidupan ini berawal ketika sebuah tragedi yang menimpah
keluarganya. Liburan pekan yang ramai dengan vario siver melaju dengan tenang
namun saat di perempatan jalan Sukarno Hatta,
sebuah sedan hitam muncul dari arah jalan coklat melaju dengan kecepatan
tinggi dan sebuah kecelakaan tidak dapat dikendalikan lagi yang menyebabkan
ayahnya meninggal dunia.
Dua jam sebelum sepeninggal ayahnya di dalam salah satu ruang rawat
rumah sakit Syiful Anwar, Ayahnya berwasiat agar millah melanjutkan studinya di
universitas yang berbasis pondok pesantren. Setelah mencari dan memilih
beberapa kampus yang terdapat dalam naungan pondok di internet akhirnya milah
memutuskan untuk masuk ke sebuah pondok pesantren
di Madura.
***
Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA) Prenduan Sumenep Madura itulah sekarang
pondok yang di pilih oleh millah untuk memenuhi wasiat dari seorang ayah
tercinta yang lebih dahulu menghadap sang khaliq.
masukan anda sangat di harapkan sobat..!
No comments:
Post a Comment