Monday, 17 September 2018

cerita bersambung sorban putih


Hari ini merupakan tiga tahunnya millah di Pondok pesantren, dia mulai merasa betapa nikmatnya tinggal di dalam sebuah jeruji suci, mengenal lebih dalam tentang manisnya  ruh Islam dan setiap  dalam sujud tahajudnya millah bersyukur kepada sang Khaliq yang telah memberi hidayah kepadanya untuk masuk pondok pesantren serta bagaimana merasakan bersanding dengan para Shohibul Jannah.
Tiga tahun yang lalu dia masih harus dipaksa olah para mu’alimah menggunakan air untuk membangunkannya, dan dipaksa agar memakai jubah dan kerudung yang syar’i, namun hari ini saat akan dibangunin oleh mu’alimah dia tidak ada di tempat tidurnya karena dia sudah bangun dan menunaikan sholat tahajud satu jam sebelum mua’alimah itu datang dan sekarang jubah dan jilbab syar’i adalah pakain favoritenya.
Tiga tahun yang lalu disaat para santriwati fokus mendengar tauziah dari seorang Kyai dia malah menjelajai bunga-bunga tidurnya dan yang lain sibuk dengan al-Qur’an dia sibuk dengan novel-novelnya, namun hari ini millah berbeda. Setiap kali ada tauziah dari seorang Kyai dia sudah duduk manis di shof paling depan dan sekarang perlahan-lahan mulai lebih lama bercekrama dengan al-Qur’an, setiap sepekan sekali baru membaca novel itu pun novel-novel Islami bukan novel yang tanpa makna.
***
Badai dan topan dari mana sehingga membawa perubahan  pada millah begitu cepat melebih kecepatannya cahaya. Cerita bermula pada sebulan yang lalu saat ba’da shubuh ada tauziah dari Nyai Amnah, seorang putri pimpinan pondok yang telah lulus dari Al-Azhar Kairo salah satu kampus tertua di Mesir. Nyai Amnah menyampaikan tentang betapa mulianya seorang hambah yang bernama wanita shalihah.
“ wanita sholihah dia bukanlah wanita yang sibuk memoleskan make up di wajahnya, bukan pula yang bangga akan kariernya yang cemerlang, bukan juga yang memamerkan kecantikannya di depan umum. Namun wanita sholihah adalah yang selalu mendekatkan dirinya pada Allah, menjaga dirinya hanya untuk satu orang yang mencintainya karena Allah.”
Salah satu teman Millah mengangkat tangan lalu bertanya.
“Afwan Nyai saya ingin bertannya, bagaimana cara kita untuk mendekatkan diri kita kepada Allah”
“pertanyaan yang bagus. Bagaimana cara kita untuk mendekatkan diri kepada?
tentunya dengan bertaqwah kepada Allah dalam artian selalu mengerjakan apa yang telah ditetapkannya dan menjauhi segala bentuk larangnya, tentunya tidak hanya di sini sebagai wanita muslimah hidup kita harus berlandasan pada Al-Qur’an dan Sunnah karena setiap perkara dalam kehidup kita al-qur’an dan Hadist adalah jalan kelurnya”.
Contoh tentang permasalahan berpakaian yang syar’i telah disebutkan dalam Al-Qur’an Al-Karim surat Al-Ahzab ayat 59. Artinya:
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Ba’da subuh millah mulai merenung seorang diri seperti apa dirinya selama ini, dunia yang selalu dipikirkan seakan-akan dia akan hidup selamanya. Millah bukanlah anak lulusan pondok sebelumnya. Dia merupakan anak lulusan salah satu sekolah menengah negri di kota malang.
Kehidupan yang bebas tidak mengenal mana muhrim mana bukan, risih dengan orang yang berpakain tertutup, keluyuran malam bersama teman sudah menjadi hal biasa dan jangan tanya tentang sholatnya mungkin yang sering dilakukan adalah sholat dzuhur karena merupakan sebuah tuntutan dari sekolah yang mewajibkan siswa-siswi berjamah di musholah.
Roda kehidupan ini berawal ketika sebuah tragedi yang menimpah keluarganya. Liburan pekan yang ramai dengan vario siver melaju dengan tenang namun saat di perempatan jalan Sukarno Hatta,  sebuah sedan hitam muncul dari arah jalan coklat melaju dengan kecepatan tinggi dan sebuah kecelakaan tidak dapat dikendalikan lagi yang menyebabkan ayahnya meninggal dunia.
Dua jam sebelum sepeninggal ayahnya di dalam salah satu ruang rawat rumah sakit Syiful Anwar, Ayahnya berwasiat agar millah melanjutkan studinya di universitas yang berbasis pondok pesantren. Setelah mencari dan memilih beberapa kampus yang terdapat dalam naungan pondok di internet akhirnya milah memutuskan untuk masuk ke sebuah pondok pesantren di Madura.
***

Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien (IDIA)  Prenduan Sumenep Madura itulah sekarang pondok yang di pilih oleh millah untuk memenuhi wasiat dari seorang ayah tercinta yang lebih dahulu menghadap sang khaliq.


masukan anda sangat di harapkan sobat..!

No comments:

Post a Comment