Wednesday, 19 September 2018

RESENSI BUKU (THE DANISH WAY OF PARENTING)


THE DANISH WAY OF PARENTING
Peresensi : Mahsunah
                                                                Judul            : Pendidikan anak ala  Denmark
                     Penulis        : Jessica Joella Alexander
                                             dan Iben  Dissing  Sandhal   
    Penerbit         : Bentang pustaka
    Cetakan         : Kedua
    ISBN             : 978-602-426-094-1
    Tebal buku    :180
    Tahun terbit  : 2018
 
Denmark adalah Negara yang memiliki kehidupan yang sangat bahagia, di Denmark anak-anak di berikan kebebasan dalam bermain, bukan untuk belajar. Sebelum berumur 7 tahun. Karena disana lebih mengedepankan bermain dari pada belajar, dan ada waktu khusus untuk mereka sekolah. Umur 10 tahun ke bawah, mereka masih mendapatkan kebesan dalam bermain, dan sesuai keinginan mereka akan bermain kemana, Free for them. Di Denmark ini tidak ada penekan untuk melangsungkan pendidikan, anak Denmark lebih di biarkan bermain, karena bagi orang sana, kebahigaan tidak harus dari pendidikan, akan tetapi kebahagiaan bisa di dapat dari keterampilan mereka.
Di Denmark pendidikan numer dua, disana lebih membiarkan keterampilan anak-anaknya. Karena menurut orang Denmark keterampilan itu lebih baik, dari pendidikan yang hanya akan membuat anak-anak stress. Dan apabila mereka dipaksakan untuk sekolah maka tidak akan membuat hidup bahagia untuk mereka. Mereka di bebaskan dari pendidikan tujuannya, supaya mereka berkembang sesuai kepribadian mereka masing-masing. Orang tua, guru dan orang-orang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing sesuai dengan karier mereka, begitupun dengan anak-anaknya, mereka lebih di tekankan sesuia dengan kemampuannya.
Mereka percaya bahwa anak-anaknya memiliki kendali hidup dengan kekuatannya itu.  Itu  muncul dari dalam diri mereka, menurut Lev Vygotsky bagi anak-anak tempat untuk belajar, membutuhkan waktu yang tepat pula. Di Denmark orang tua tidak mencampuri urusan anak-anaknya, melainkan mereka benar-benar membutuhkan orang tua, akan tetapi orang tuanya menyediakan scaffolding  untuk perkembangannya dan harga diri anak-anaknya. Jika mereka di tekan khawtir akan terjadi sesuatu yang menceaskan orang tuanya. Orang tua di Denmark mengadakan pertemuan dengan anak-anaknya untuk mengetahui sejauhmana  keterampilan mereka, dan menyuruhnya untuk mencoba hal yang baru.
Di Amerika serikat telah di sediakan buku-buku untuk pendidikan anak yaitu bagaimana cara mengatasi anak-anak. Sebagai orang tua tidak pasti mencemaskan anaknya, oleh karenanya mereka tidak lengah dalam mengurus anak-anaknya, mereka ingin sekali membangun sesuatu hal yang membuat anaknya menjadi istimewa. Metode stadart untuk melakukan ini adalah mereka memuji anak-anaknya. Kadang berlebihan untuk sesuatu yang tidak terlalu penting keberhasilannya, supaya apa? Supaya menghilangkan stressnya. Membangun harga diri layaknya membangun rumah dengan fondasi seadanya.
Bagaimana di Denmark bisa mengetahui bahwa permainan lebih membantu? Ilmuan telah melakuka percobaan pada hewan, yang mana hewan ini di pisah dari teman bermainnya. yaitu tikus rumahan  dan monyet rhesus, setelah perkembangannya tumbuh dewasa mereka jadi stress. Yang ada para hewan itu malah bereaksi tidak karuan sedang mereka tidak bisa mengatasi masalahnya, semua ini karena mereka di pisahkan dari teman bermainnya. Mereka itu ketakukan, gemetaran, menghadapi masalah yang mereka hadapi.
Oleh sebab itulah kenapa orang tua di Denmark memberikan kebebasan terhadap mereka bermain dari pada belajar di sekolah, orang tua itu lebih memilih membebaskan keterampilannya dari pada harus belajar di sekolah. Bermain mempunyai dampak langsung pada semua kemampuan beradaptasi dalam kehidupan.
Untuk anak-anak, situasi kehidupan sosial juga panuh tekunan. Permainan sosial bisa mendatangkan konflik ataupun kerja sama, oleh sebab itu emosi yang mereka hadapi, dan saatnya untuk mengatasi masalahnya. Dalam pandangan Denmark, bermain sangat penting bagi kehidupan anak-anak, sehingga sekolah di Denmark mempunyai progam menggiatkan belajar melalui oleh raga, permainan, dan latihan untuk semua anak. Fakta menarik tentang bermain di Denmark ini di ciptakan oleh tukang kayu Denmark dalam bengkelnya pada tahun 1932, mainan ini di sebut lego, singkatan dari Leg godt yang artinya “bermainlah dengan baik”. Permainan inilah yang kemudian jadi tren di Denmark.
 Di Denmark tidak hanya di permainan saja di film pun juga mendapat perhatian. Prof , Silvia Knobloch-Westermick dan koleganya di Universitas Ohio state melakukan penelitian yang demontrasikan bahwa menonton film yang mendramakan sedih ataupun tragis, membuat orang perhatian terhadap film tersebut sehingga dan menurut mereka layaknya terjadi dalam  kehidupannya. Segala pengaruh yang menjadikan mereka (orang Denmark) bahagia, maka di sana di aplikaskan seperti bermain, yang telah di uraikan di atas tadi.
Bagi orang Denmark apabila anak-anak mengenali dan menerima perasan, baik dan buruk dalam bertingkah dengan cara yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai, tantangan apapun yang mereka hadapi tidak akan menjatuhkan mereka. Banyak orang memahami bahwa memberikan kesenangan terhadap anak-anaknya adalah bentuk kebahgian bagi mereka.
Riset yang berkembang dalam psikologi dan ilmu saraf mendukung ide bahwa sebuah pola pikir berkembang adalah katalis nyata untuk pencapaian yang luar biasa.  Jessica adalah seorang yang dari Amerika serikat, sedang suaminya dari Denmark. Mereka mempunyai perbedaan dalam mengatasi anak-anaknya. Jessica terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan dan tidak sabar dalam menghadapinya. Berbeda dengan suaminya, ia mempunyai kesabaran yang luar biasa, dan mempunyai ide-ide ajaib dalam mengatasi masalah-masalah yang menimpa anak-anaknya. Oleh sebab itulah orang-orang Denmark hidup bahagia, karena masalah yang menimpa orang sana mudah untuk teratasi.
Menempatkan sesuatu pada tempatnya, itulah yang di aplikasikan oleh orang-orang Denmark. Sedang Di Amerika serikat hukuman-hukuman seperti pukulan-pukulan yang terjadi di sekolah itu masih berlaku. Salah satu cara sekolah Di Denmark mempopulerkan demokrasi, murid-murid di Denmark mempunyai kebebasan dalam membuat peraturan sekolah bersama dengan guru-gurunya. Di Denmark merupakan negara yang hidupnya bahagia, karena di sana tidak menggunakan keegoisan dalam hidup, disana lebih memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Dan  orang Denmark melihat gaya hygge sebagai gaya hidup yang membuat hidup santai bersama keluarganya. 
Menurut peresensi kelebihan buku ini adalah terdapat gambar di setiap babnya, dan terdapat poin-poin penting yang sudah di tandai didalamnya. Kelemahan dalam buku ini adalah pembahasan dan bahasanya kurang di pahami oleh peresensi. Buku ini cocok untuk di baca para pendidik yang mempunyaai pengetahuan yang baik, dalam memahami makna isi (pembahasan) yang ada di dalam buku ini.

No comments:

Post a Comment