THE DANISH WAY OF PARENTING
Peresensi : Mahsunah
Judul : Pendidikan anak ala Denmark
Penulis : Jessica Joella Alexander
dan Iben Dissing Sandhal
Penerbit : Bentang pustaka
Cetakan : Kedua
ISBN : 978-602-426-094-1
Tebal
buku :180
Tahun terbit : 2018
Denmark adalah Negara yang memiliki kehidupan
yang sangat bahagia, di Denmark anak-anak di berikan kebebasan dalam bermain,
bukan untuk belajar. Sebelum berumur 7 tahun. Karena disana lebih mengedepankan
bermain dari pada belajar, dan ada waktu khusus untuk mereka sekolah. Umur 10
tahun ke bawah, mereka masih mendapatkan kebesan dalam bermain, dan sesuai
keinginan mereka akan bermain kemana, Free for them. Di Denmark ini tidak ada
penekan untuk melangsungkan pendidikan, anak Denmark lebih di biarkan bermain,
karena bagi orang sana, kebahigaan tidak harus dari pendidikan, akan tetapi
kebahagiaan bisa di dapat dari keterampilan mereka.
Di Denmark pendidikan numer dua, disana
lebih membiarkan keterampilan anak-anaknya. Karena menurut orang Denmark
keterampilan itu lebih baik, dari pendidikan yang hanya akan membuat anak-anak
stress. Dan apabila mereka dipaksakan untuk sekolah maka tidak akan membuat
hidup bahagia untuk mereka. Mereka di bebaskan dari pendidikan tujuannya,
supaya mereka berkembang sesuai kepribadian mereka masing-masing. Orang tua,
guru dan orang-orang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing sesuai
dengan karier mereka, begitupun dengan anak-anaknya, mereka lebih di tekankan
sesuia dengan kemampuannya.
Mereka percaya bahwa anak-anaknya memiliki
kendali hidup dengan kekuatannya itu.
Itu muncul dari dalam diri
mereka, menurut Lev Vygotsky bagi anak-anak tempat untuk belajar, membutuhkan
waktu yang tepat pula. Di Denmark orang tua tidak mencampuri urusan
anak-anaknya, melainkan mereka benar-benar membutuhkan orang tua, akan tetapi
orang tuanya menyediakan scaffolding
untuk perkembangannya dan harga diri anak-anaknya. Jika mereka di tekan
khawtir akan terjadi sesuatu yang menceaskan orang tuanya. Orang tua di Denmark
mengadakan pertemuan dengan anak-anaknya untuk mengetahui sejauhmana keterampilan mereka, dan menyuruhnya untuk
mencoba hal yang baru.
Di Amerika serikat telah di sediakan
buku-buku untuk pendidikan anak yaitu bagaimana cara mengatasi anak-anak.
Sebagai orang tua tidak pasti mencemaskan anaknya, oleh karenanya mereka tidak
lengah dalam mengurus anak-anaknya, mereka ingin sekali membangun sesuatu hal
yang membuat anaknya menjadi istimewa. Metode stadart untuk melakukan ini
adalah mereka memuji anak-anaknya. Kadang berlebihan untuk sesuatu yang tidak
terlalu penting keberhasilannya, supaya apa? Supaya menghilangkan stressnya.
Membangun harga diri layaknya membangun rumah dengan fondasi seadanya.
Bagaimana di Denmark bisa mengetahui bahwa
permainan lebih membantu? Ilmuan telah melakuka percobaan pada hewan, yang mana
hewan ini di pisah dari teman bermainnya. yaitu tikus rumahan dan monyet rhesus, setelah
perkembangannya tumbuh dewasa mereka jadi stress. Yang ada para hewan itu malah
bereaksi tidak karuan sedang mereka tidak bisa mengatasi masalahnya, semua ini
karena mereka di pisahkan dari teman bermainnya. Mereka itu ketakukan,
gemetaran, menghadapi masalah yang mereka hadapi.
Oleh sebab itulah kenapa orang tua di
Denmark memberikan kebebasan terhadap mereka bermain dari pada belajar di
sekolah, orang tua itu lebih memilih membebaskan keterampilannya dari pada
harus belajar di sekolah. Bermain mempunyai dampak langsung pada semua
kemampuan beradaptasi dalam kehidupan.
Untuk anak-anak, situasi kehidupan sosial
juga panuh tekunan. Permainan sosial bisa mendatangkan konflik ataupun kerja
sama, oleh sebab itu emosi yang mereka hadapi, dan saatnya untuk mengatasi
masalahnya. Dalam pandangan Denmark, bermain sangat penting bagi kehidupan
anak-anak, sehingga sekolah di Denmark mempunyai progam menggiatkan belajar
melalui oleh raga, permainan, dan latihan untuk semua anak. Fakta menarik
tentang bermain di Denmark ini di ciptakan oleh tukang kayu Denmark dalam
bengkelnya pada tahun 1932, mainan ini di sebut lego, singkatan dari Leg
godt yang artinya “bermainlah dengan baik”. Permainan inilah yang kemudian
jadi tren di Denmark.
Di
Denmark tidak hanya di permainan saja di film pun juga mendapat perhatian. Prof
, Silvia Knobloch-Westermick dan koleganya di Universitas Ohio state melakukan
penelitian yang demontrasikan bahwa menonton film yang mendramakan sedih
ataupun tragis, membuat orang perhatian terhadap film tersebut sehingga dan
menurut mereka layaknya terjadi dalam
kehidupannya. Segala pengaruh yang menjadikan mereka (orang Denmark)
bahagia, maka di sana di aplikaskan seperti bermain, yang telah di uraikan di
atas tadi.
Bagi orang Denmark apabila anak-anak
mengenali dan menerima perasan, baik dan buruk dalam bertingkah dengan cara
yang konsisten sesuai dengan nilai-nilai, tantangan apapun yang mereka hadapi tidak
akan menjatuhkan mereka. Banyak orang memahami bahwa memberikan kesenangan
terhadap anak-anaknya adalah bentuk kebahgian bagi mereka.
Riset yang berkembang dalam psikologi dan
ilmu saraf mendukung ide bahwa sebuah pola pikir berkembang adalah katalis
nyata untuk pencapaian yang luar biasa.
Jessica adalah seorang yang dari Amerika serikat, sedang suaminya dari
Denmark. Mereka mempunyai perbedaan dalam mengatasi anak-anaknya. Jessica
terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan dan tidak sabar dalam
menghadapinya. Berbeda dengan suaminya, ia mempunyai kesabaran yang luar biasa,
dan mempunyai ide-ide ajaib dalam mengatasi masalah-masalah yang menimpa
anak-anaknya. Oleh sebab itulah orang-orang Denmark hidup bahagia, karena
masalah yang menimpa orang sana mudah untuk teratasi.
Menempatkan sesuatu pada tempatnya, itulah
yang di aplikasikan oleh orang-orang Denmark. Sedang Di Amerika serikat
hukuman-hukuman seperti pukulan-pukulan yang terjadi di sekolah itu masih
berlaku. Salah satu cara sekolah Di Denmark mempopulerkan demokrasi,
murid-murid di Denmark mempunyai kebebasan dalam membuat peraturan sekolah
bersama dengan guru-gurunya. Di Denmark merupakan negara yang hidupnya bahagia,
karena di sana tidak menggunakan keegoisan dalam hidup, disana lebih memberikan
kebebasan kepada anak-anaknya. Dan orang
Denmark melihat gaya hygge sebagai gaya hidup yang membuat hidup santai
bersama keluarganya.
Menurut peresensi kelebihan buku ini adalah
terdapat gambar di setiap babnya, dan terdapat poin-poin penting yang sudah di
tandai didalamnya. Kelemahan dalam buku ini adalah pembahasan dan bahasanya
kurang di pahami oleh peresensi. Buku ini cocok untuk di baca para pendidik
yang mempunyaai pengetahuan yang baik, dalam memahami makna isi (pembahasan)
yang ada di dalam buku ini.

No comments:
Post a Comment