MUHAMMAD AL-FATIH: Sang Penakluk Yang
Diramalkan
Peresensi : Ummu Aiman
Cetak :
Kesatu, Oktober 2017
ISBN : 9789790395909
Tebal : xxxiv + 410 hlm
|
|
S
|
aat kita mendengar sebuah hadist
yang sangat popular dari Rasulullah yang berbunyi “Kota Konstantinopel nanti akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin
yang menaklukkannya merupakan sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di
bawah komandonya merupakan sebaik-baik pasukan." [H.R. Ahmad bin Hanbal
Al-Musnad 4/335].
Sebaik-baik
pemimpin yang diramalkan hadist di atas adalah Sultan Muhammad II, Dia adalah
Sultan Daulah Utsmaniyah yang ketujuh dalam rangkain keluarga Utsman. Dia
digelari Al-Fatih. Masa pemerintahannya selama tiga tahun lamanya dan menjadi
tahun-tahun kebaikan dan kemulian bagi kaum muslimin.
Ketika
mendengar hadits tersebut Muhammad Al-Fatih menganggapnya sebagai kabar
gembira, inspirasi, sekaligus motivasi. Ia menyadari bahwa untuk meraih
kemenangan istimewa dibutuhkan kelayakan dan persiapan khusus. Tentu saja
mewujudkan “sehebat-hebat pemimpin” dan “sekuat-kuat pasukan” bukanlah hal yang
sederhana.
Buku
ini penulis (Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi),
seorang Ulama yang ahli dalam sejarah, analisis politik kelahiran
Benghazi, Libia (1963). Mendeskripsikan tentang kisah Muhammad Al-Fatih, penakluk konstantinopel dan romawi,
serta kakek-kakek beliau yang mulia yang hidup dalam naungan Islam dan wafat
dalam meninggikan kalimat Allah.
Konstantinopel dianggap sebagai salah satu kota
terpenting di dunia. Kota ini dibangun pada tahun 330 M oleh seorang raja
Byzantium, Constantine I. konstantinopel memiliki posisi yang sangat istimewa
di mata dunia, hingga dikatakan “seandainya dunia ini hanya terdiri satu kerajaan
maka Konstantinopel adalah tempat yang paling layak untuk menjadi ibu kotanya”
Konstantinopel ialah kota yang sangat strategis
sekali, sebab kota ini terletak di persimpangan antara benua Eropa dan benua
Asia, kota dimana aktifitas pelabuhannya yang sangat sibuk ketika zaman itu.
Konstantinopel adalah kota yang memiliki
kesempatan secara terhormat dengan menjadikan kota ini menjadi salah satu dari
3 peradaban paling besar yang ada di dunia dan mendapatkan gelar kota yang
pertahanannya terbaik di dunia ketika itu.
Buku ini secara detail memotret perjalanan
hidup sosok Al-Fatih, sejak era kelahirannya pada saat Sultan Murad II
memerintah hingga akhir hayatnya. Tak terlewatkan momen-momen penting ketika
Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 M; dari
persiapan perang, pengepungan selama 54 hari lamanya, hingga pengambilalihan
dan pemlihan kota Konstantinopel setelah ditaklukan.
Sultan Muhammad Al-Fatih menggerakan segenap
kemampuannya dalam membuat perencanan dan strategi untuk menaklukan kota Konstantinopel.
Dia berusaha keras memperkuat kekuatan meliter Utsmani dari segi personel
hingga jumlah pasukannya mencapai dua ratus lima puluh ribu pejuang. Ini adalah
pasukan terbanyak pada masa itu.
Penaklukan Konstantinopel inilah yang
menegaskan posisi Daulah Utsmaniyah sebagai negara
kuat di mata dunia. Keberhasilan meruntuhkan Imperium Bizantium menjadikan
kekuatan politik dunia mana saja berhitung ulang jika ingin berkonfrontasi
dengan Turki Ustmani.
Nama besar Penulis menjadi jaminan kualitas tersendiri dari buku ini. Dr. Ali Ash-Shallabi merupakan sosok yang diakui kepakarannya di bidang Sejarah Islam. Karya-karyanya sudah banyak terbit dan diakui secara Internasional.
Nama besar Penulis menjadi jaminan kualitas tersendiri dari buku ini. Dr. Ali Ash-Shallabi merupakan sosok yang diakui kepakarannya di bidang Sejarah Islam. Karya-karyanya sudah banyak terbit dan diakui secara Internasional.
Buku ini menerangkan kepada
pembaca yang budiman bahwa kebangkitan orang-orang Utsmani pada masa Sultan
Muhammad Al-Fatih sangatlah menyeluruh di segala bidang; keilmuan, politik,
ekonomi, informasi dan militer.
Adapun kelebihan dari buku ini adalah
penjelasan yang sangat rinci dari sebelum Sultan Muhammad Al-Fatih dilahirkan,
sampai dengan penaklukan kota Konstantinopel, bahasa yang digunakan oleh penulis sederhana dengan penjelasan yang tegas,
sehingga para pembaca dengan mudah memahami isi buku dan tidak kalah menarik
lagi adalah dilengkapi dengan gambar-gambar serta pandangan penulis yang
bersandar pada dasar-dasar Islam dan sumber-sumber yang berasal dari Al-Qura’an
dan As-Sunah.
Bagian yang menarik dari buku ini
ialah muncul pemikiran Sultan Muhammad Al-Fatih yang cerdas, yaitu memindahkan
kapal-kapal perang dari Besiktas ke Tanduk Emas, dengan menyeret kapal-kapal
yang telah dilumuri oleh lemak dan minyak. Saat pasukan Al-Fatih terpuruk
dengan kekalahan angkatan laut pada perang laut yang berpengaruh terhadap
anggota musyawaratan Sultan, tertuma perdana menteri yang bernama Khalil Pasha.
Ia berusaha mempengaruhi Sultan Muhammad Al-Fatih untuk mengalihkan pandangan
dari menguasai Konstantinopel dengan cukup melakukan perjanjian damai yang berarti
menghentikan pengepungan. Ini semua adalah titik awak kemenangan pasukan
Muhammad II.
Menjadi seorang manusia, kita
tidak akan luput dari kesalahan, selain kelebihan di atas, terdapat pula
kekurangan yang dimiliki dalam buku ini yaitu, adanya kesalahan penulisan,
seperti yang terdapat di halaman 249 “dikabukkan” yang seharusnya ditulis
“dikabulkan”.
Namun tetap saja buku yang
ditulis oleh Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam menghadirkan sosok Muhammad Al-Fatih lewat
buku ini menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi umat Islam saat ini.
Buku ini sangat bermanfaat untuk
para pencinta sejarah sejarah Islam, buku ini wajib menjadi koleksi. Isinya
sangat jelas dan padat. Di samping para pecinta sejarah buku ini juga sangat
cocok bagi seorang pemimpin atau calon pemimpin sebagai teladan dari sang
pemimpin terbaik Sultan Muhammad Al-Fatih sang penakluk yang diramalkan.
Semoga kehadiran buku ini mampu melengkapi
khazanah kepustakaan kaum Muslimin. Semoga pula peristiwa penaklukan
Konstantiopel menjadi sumber inspirasi lintas generasi umat Islam agar tetap
yakin bahwa kemenangan bersama Islam, bahwa kabar dari Rasulullah benar adanya.

No comments:
Post a Comment