Wednesday, 19 September 2018

RESENSI BUKU (MUHAMMAD AL-FATIH: Sang Penakluk Yang Diramalkan)


MUHAMMAD AL-FATIH: Sang Penakluk Yang Diramalkan
   Peresensi  : Ummu Aiman 
  Penulis      : Dr. Ali Muhammad   Ash-Shallabi
  Penerbi      : AQWAM MEDIKA 
  Cetak         : Kesatu, Oktober 2017
  ISBN         : 9789790395909
  Tebal         : xxxiv + 410 hlm




   

S
aat kita mendengar sebuah hadist yang sangat popular dari Rasulullah yang berbunyi “Kota Konstantinopel nanti akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya merupakan sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya merupakan sebaik-baik pasukan." [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].
Sebaik-baik pemimpin yang diramalkan hadist di atas adalah Sultan Muhammad II, Dia adalah Sultan Daulah Utsmaniyah yang ketujuh dalam rangkain keluarga Utsman. Dia digelari Al-Fatih. Masa pemerintahannya selama tiga tahun lamanya dan menjadi tahun-tahun kebaikan dan kemulian bagi kaum muslimin.
            Ketika mendengar hadits tersebut Muhammad Al-Fatih menganggapnya sebagai kabar gembira, inspirasi, sekaligus motivasi. Ia menyadari bahwa untuk meraih kemenangan istimewa dibutuhkan kelayakan dan persiapan khusus. Tentu saja mewujudkan “sehebat-hebat pemimpin” dan “sekuat-kuat pasukan” bukanlah hal yang sederhana.
            Buku ini penulis (Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi), seorang Ulama yang ahli dalam sejarah, analisis politik kelahiran Benghazi, Libia (1963). Mendeskripsikan tentang kisah Muhammad Al-Fatih, penakluk konstantinopel dan romawi, serta kakek-kakek beliau yang mulia yang hidup dalam naungan Islam dan wafat dalam meninggikan kalimat Allah.
Konstantinopel dianggap sebagai salah satu kota terpenting di dunia. Kota ini dibangun pada tahun 330 M oleh seorang raja Byzantium, Constantine I. konstantinopel memiliki posisi yang sangat istimewa di mata dunia, hingga dikatakan “seandainya dunia ini hanya terdiri satu kerajaan maka Konstantinopel adalah tempat yang paling layak untuk menjadi ibu kotanya”
   Konstantinopel ialah kota yang sangat strategis sekali, sebab kota ini terletak di persimpangan antara benua Eropa dan benua Asia, kota dimana aktifitas pelabuhannya yang sangat sibuk ketika zaman itu.
Konstantinopel adalah kota yang memiliki kesempatan secara terhormat dengan menjadikan kota ini menjadi salah satu dari 3 peradaban paling besar yang ada di dunia dan mendapatkan gelar kota yang pertahanannya terbaik di dunia ketika itu.
Buku ini secara detail memotret perjalanan hidup sosok Al-Fatih, sejak era kelahirannya pada saat Sultan Murad II memerintah hingga akhir hayatnya. Tak terlewatkan momen-momen penting ketika Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 M; dari persiapan perang, pengepungan selama 54 hari lamanya, hingga pengambilalihan dan pemlihan kota Konstantinopel setelah ditaklukan.
Sultan Muhammad Al-Fatih menggerakan segenap kemampuannya dalam membuat perencanan dan strategi untuk menaklukan kota Konstantinopel. Dia berusaha keras memperkuat kekuatan meliter Utsmani dari segi personel hingga jumlah pasukannya mencapai dua ratus lima puluh ribu pejuang. Ini adalah pasukan terbanyak pada masa itu.
Penaklukan Konstantinopel inilah yang menegaskan posisi Daulah Utsmaniyah sebagai negara kuat di mata dunia. Keberhasilan meruntuhkan Imperium Bizantium menjadikan kekuatan politik dunia mana saja berhitung ulang jika ingin berkonfrontasi dengan Turki Ustmani.
            Nama besar Penulis menjadi jaminan kualitas tersendiri dari buku ini. Dr. Ali Ash-Shallabi merupakan sosok yang diakui kepakarannya di bidang Sejarah Islam. Karya-karyanya sudah banyak terbit dan diakui secara Internasional.
Buku ini menerangkan kepada pembaca yang budiman bahwa kebangkitan orang-orang Utsmani pada masa Sultan Muhammad Al-Fatih sangatlah menyeluruh di segala bidang; keilmuan, politik, ekonomi, informasi dan militer.

Adapun kelebihan dari buku ini adalah penjelasan yang sangat rinci dari sebelum Sultan Muhammad Al-Fatih dilahirkan, sampai dengan penaklukan kota Konstantinopel, bahasa yang digunakan oleh penulis sederhana dengan penjelasan yang tegas, sehingga para pembaca dengan mudah memahami isi buku dan tidak kalah menarik lagi adalah dilengkapi dengan gambar-gambar serta pandangan penulis yang bersandar pada dasar-dasar Islam dan sumber-sumber yang berasal dari Al-Qura’an dan As-Sunah.
Bagian yang menarik dari buku ini ialah muncul pemikiran Sultan Muhammad Al-Fatih yang cerdas, yaitu memindahkan kapal-kapal perang dari Besiktas ke Tanduk Emas, dengan menyeret kapal-kapal yang telah dilumuri oleh lemak dan minyak. Saat pasukan Al-Fatih terpuruk dengan kekalahan angkatan laut pada perang laut yang berpengaruh terhadap anggota musyawaratan Sultan, tertuma perdana menteri yang bernama Khalil Pasha. Ia berusaha mempengaruhi Sultan Muhammad Al-Fatih untuk mengalihkan pandangan dari menguasai Konstantinopel dengan cukup melakukan perjanjian damai yang berarti menghentikan pengepungan. Ini semua adalah titik awak kemenangan pasukan Muhammad II.
Menjadi seorang manusia, kita tidak akan luput dari kesalahan, selain kelebihan di atas, terdapat pula kekurangan yang dimiliki dalam buku ini yaitu, adanya kesalahan penulisan, seperti yang terdapat di halaman 249 “dikabukkan” yang seharusnya ditulis “dikabulkan”.
Namun tetap saja buku yang ditulis oleh Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam menghadirkan sosok Muhammad Al-Fatih lewat buku ini menjadi teladan dan sumber inspirasi bagi umat Islam saat ini.
Buku ini sangat bermanfaat untuk para pencinta sejarah sejarah Islam, buku ini wajib menjadi koleksi. Isinya sangat jelas dan padat. Di samping para pecinta sejarah buku ini juga sangat cocok bagi seorang pemimpin atau calon pemimpin sebagai teladan dari sang pemimpin terbaik Sultan Muhammad Al-Fatih sang penakluk yang diramalkan.
Semoga kehadiran buku ini mampu melengkapi khazanah kepustakaan kaum Muslimin. Semoga pula peristiwa penaklukan Konstantiopel menjadi sumber inspirasi lintas generasi umat Islam agar tetap yakin bahwa kemenangan bersama Islam, bahwa kabar dari Rasulullah benar adanya.


No comments:

Post a Comment